Merajut Toleransi

Bagi masyarakat dunia, keberagaman di Indonesia adalah hal yang menakjuban. Kekaguman ini bukan tanpa alasan, bayangkan saja berdasarkan sensus terakhir yang dilakukan BPS pada tahun 2010, diketahui jumlah suku di Indonesia sebanyak 1.128 suku bangsa. Ya, keberagaman, suku, agama dan ras adalah identitas dan roh bangsa Indonesia yang wujud nyatanya tergambar jelas nan gagah pada Garuda Pancasila.

Bicara tentang keragaman dan toleransi di Indonesia, tentu tak lengkap jika tak menyinggung sosok Gus Dur, Bapak Pluralisme Indonesia. Dalam “Surat Untuk Bapak” yang ditulis Yenny Wahid, ternyata sang putri sempat ragu ketika Gus Dur dipilih sebagai presiden karena ayahnya yang tak bisa melihat, namun justru itulah anugerah buat Gus Dur, mata batinnya jadi lebih mulia. Salah satu kebijakannya yang mendulang kontroversi adalah memperbolehkan berkibarnya bendera bintang kejora setingkat dibawah bendera merah putih serta didendangkannya “Hai Tanahku Papua” setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bagi Gus Dur ini adalah upaya persuasif dan akomodatif untuk menciptakan damai di tanah Papua, tanpa kekerasan militer. Tak berhenti sampai disitu, Gus Dur pun memberi ruang hidup yang lebih terhormat bagi keturunan Tionghoa sebagai bagian dari bangsa ini.

Namun, dari atas sana, Bapak Bangsa yang juga dijuluki Semar (tokoh pewayangan berbadan tambun, berkulit hitam, perut buncit dan berkuluk di kepala) bisa melihat bangsa ini tengah mengalami ujian toleransi. Kali ini Ahok bintangnya. Sejak kiprahnya mengikuti konstelasi pilkada di DKI Jakarta sosoknya tak kalah fenomenal seperti Jokowi. Sosoknya mampu membuat orang cinta mati sekaligus benci setengah mati. Saya cukup iri dengan warga Jakarta, karena mereka menjadi bagian dari momen bersejarah pemilihan kepala daerah. Untuk pertama kalinya seorang Tionghoa non-muslim mampu merebut hati rakyat ibu kota. Inilah bentuk kepercayaan  terhadap pluralisme. Tapi beberapa bulan terakhir kepercayaan ini sedang diuji. Pencalonan kembali Ahok, sang petahana rupanya membuat suasana pilkada DKI Jakarta makin panas. Ahok menjadi buah bibir tidak hanya untuk kalangan ibu kota, tapi seluruh Indonesia. Ini bisa dilihat dijagad maya. Kami di NTT juga tak ketinggalan, aksi demo 4 November yang berakhir ricuh menjadi pembicaraan hangat di bale-bale sambil ditemani kopi sore.

Sayang 1000 sayang, diusia yang ke-71 tahun merdeka, sosok Ahok akhirnya menyadarkan kita bahwa isu SARA masih dengan mudah memantik amarah dan benci sekaligus melemahkan demokrasi. Isu SARA rupanya masih menjadi senjata ampuh untuk melibas lawan-lawan politik bagi sebagian kalangan yang intoleran. Polemik SARA yang merupakan warisan kolonial seharusnya tak lagi menjadi batu sandungan bagi negara ini yang menganut paham demokrasi. Justru rakyat harus diberi ruang yang kokoh agar keragaman dapat tumbuh bersih dan sehat termasuk dalam kehidupan berpolitik, karena demokrasi adalah pluralisme itu sendiri.

Masih segar di ingatan tragedy bom Samarinda yang menewaskan Intan Olivia, bocah berusia 2 tahun dengan luka bakar diatas 90%. Kabar meninggalnya Intan lantas membuat sebagian besar masyarakat Indonesia tersentak. Bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan?  Mari kita tinggalkan segala atribut perbedaan entah itu agama, suku, budaya dan ras karena ini soal kemanusiaan. Ini tentang seorang anak berusia 2 tahun yang dibom dan meninggal.

Disini saya teringat akan pemikiran Trisno Sutanto, seorang aktivis yang giat bergerak dalam isu pluralisme dan kaum minoritas Indonesia. Dia mengatakan keragaman etnis, agama, dan budaya memang membuat masyarakat itu plural, tapi keragaman ini hanya sekedar indifference, artinya pluralisme yang ada hanya sekedar masyarakat yang hidup bersama-sama tetapi sesungguhnya mereka hidup dalam dunianya masing-masing. Mungkin ini yang diistilahkan Alwi Shihab sebagi pluralisme malu-malu.

Oleh karenanya, untuk “menggembleng” pluralisme yang malu-malu ini, perlu sejak dini menanamkan nilai kebhinekaan pada kaum muda. Kenapa ini menjadi penting? Karena baik burukya suatu bangsa akan dilihat dari kualitas pemudanya. Bercermin dari aksi damai 4 November yang berakhir ricuh dan bom Samarinda, nyatanya perbedaan agama di Indonesia masih sering dijadikan alat provokasi memancing perselisihan antar kelompok.

Memang, permasalahan ini tak bisa sepenuhnya dibebankan pada kaum muda, tapi tak bisa disangkal bahwa generasi muda memiliki peranan penting untuk menjaga bhineka. Saling berkomunikasi dan bertukar pikiran antar pemuda tanpa memandang SARA menjadi hal kecil yang amat bernilai jika terus menerus dilakukan dengan mengedapankan rasa saling menghargai. Coba bayangkan, di lingkungan kampus perbedaan menjadi tembok penghalang, tentu generasi muda  lima sampai sepuluh tahun kedepan tidak akan menjadi lebih baik. Kaum muda adalah aktor terbaik perubahan, oleh sebab itu pendidikan multikultural menjadi urgensi yang perlu diperhatikan bersama agar mampu memperkuat toleransi dalam wadah pembelajaran, tidak hanya di lingkup akademis, tapi lingkungan masyarakat serta keluarga. Sehingga SARA tak lagi menjadi komoditi yang laku keras, barang lama yang terus didaur ulang dan diberi kemasan baru. Kalau katanya Gus Dur, gitu aja kok repot!

Advertisements

Bola Panas Berantas Pungli

Pungli, satu kata ini begitu melekat di memori masyarakat Indonesia. Saking akrabnya, praktek ini sudah dianggap wajar dan pantas. Tidak percaya? Bagaimana jika anda mendengar celutukan “di negeri ini mana ada yang gratis?”. Ya, selama ada fulus semua urusan pasti mulus. Begitu kira-kira pungli yang menjelma menjadi bahaya laten negeri ini. Meski sudah banyak dibahas, banyak kajian, sampai faktor-faktor penyebab dilontarkan bahkan pada masa orde baru dibentuk Obstib (Operasi Tertib) tapi pungli tetap tak ada matinya.

Namun belakangan praktek pungli mendadak naik daun saat Presiden Jokowi turun langsung menyaksikan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menyeret sejumlah pegawai di Kementrian Perhubungan RI yang langsung dipecat dan dijadikan tersangka. Apa yang dilakukan Jokowi rasanya menjadi titik balik pemberantasan pungli. Pihak-pihak yang merasa lahan jarahannya terancam mulai menyerang. Mereka mencibir Presiden yang mengurus perkara receh, mengingat jumlah barang bukti hanya sebesar Rp 95 juta. Serangan ini dijawab  Jokowi dengan menabuh genderang perang. “Serupiah pun akan saya urus kalau itu pungli” begitu tegas Jokowi. Ini bukti revolusi mental yang ditunjukan Sang Presiden pada rakyatnya.

Bagi Jokowi, perkara receh ini justru yang paling menjengkelkan. Coba bayangkan, meskipun nominalnya kecil tapi jika ada di setiap kantor, di pelabuhan, rumah sakit bahkan jalan raya dan itu terjadi dari Sabang sampai Merauke tentu jumlahnya jadi puluhan triliun. Logika inilah yang coba dijelaskan Jokowi untuk menyadarkan masyarakat.

Kegeraman Presiden bukan tanpa alasan. Sebagian besar praktek pungli justru terjadi pada layanan publik yang tentu saja memberatkan dan meresahkan rakyat. Praktek ini tidak pandang bulu, mulai dari skala kecil seperti mengurus administrasi rumah tangga sekelas KTP dan Kartu Keluarga pun ada pungli. Kalau mau lihat yang skalanya lebih besar coba bergeser pada pembuatan SIM atau paspor. Pengusaha pun tak lepas dari teror pungli, mulai dari mengurus surat izin, perpanjang surat izin usaha, izin HO hingga beberapa perizinan lain masih sulit dilakukan melalui layanan terpadu satu atap.

Praktek pungli yang membudaya ini jelas menjadi lahan segar terjadinya korupsi. Disadari atau tidak, virus pungli ini semakin menjalar tatkala penerima suap dan pemberi suap bersepakat. Lazimnya kegiatan jual beli, jika penawaran dan permintaan bersua pada satu titik maka disitu akan terjadi transaksi. Ini sekaligus memperjelas jika wabah pungli telah menjangkiti mental masyarakat, birokrat sampai aparat hingga stadium akut.

Kita patut mengapresiasi gebrakan Presiden yang meluncurkan Tim Sapu Bersih (Saber) Pungli. Pekerjaan Tim Saber Pungli tentu tidak akan mudah, mengingat penularan virus ini sudah demikian gencar dan mengakar, namun sulit bukan berarti tak bisa. Jika tim ini bekerja masif dengan didukung segenap lapisan masyarakat, tentu akan membuat mafia pungli meriang. Lahan-lahan basah yang selama ini mereka tempati spontan akan kering akibat gebrakan Presiden. Terobosan yang dilakukan pemerintah ini jelas akan menguap jika masyarakat tak berperan aktif. Agar tak angat-angat tai ayam, masyarakat harus turut mewujudkan tegaknya hukum dan melaporkan kepada aparat serta situs-situs yang dirujuk oleh pemerintah.

Selain itu, salah satu solusi meredam praktek pungli pada layanan publik adalah melakukan evaluasi terhadap lembaga-lembaga negara yang menjadi lahan subur praktik pungli dengan dukungan anggaran yang mumpuni baik untuk operasional maupun kesejahteraan aparaturnya agar tidak mudah jatuh terjerat pungli.

Poin penting yang tak kalah krusial adalah pelayanan publik satu atap dan cepat harus bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum jika masyarakat rela mengeluarkan sejumlah biaya agar dapat membeli waktu yang lebih efisien dibandingkan cara standar operasi pelayanan tanpa biaya. Baik warga biasa atau kalangan pengusaha menganggap ini adalah upaya yang amat rasional. Contoh sederhana dan lumrah terjadi adalah operasi penertiban yang dilakukan aparat kepolisian lalu lintas. Dibandingkan harus mengurus persoalan di pengadilan dan membiarkan kendaraan disita, tentu saja pilihan rasional adalah membayar oknum petugas agar pelanggaran lalulintas cepat selesai. Tentu akan lebih efisien dan mudah jika sanksi berupa uang bisa diproses dengan memanfaatkan e-banking atau via transfer ATM. Semoga gaung revolusi mental ini didukung oleh kebijakan dan semangat perubahan dari semua pihak. Karena sejatinya betul kata Bung Karno, “Perjuanganku melawan penjajah sudah selesai. Lebih sulit perjuangan kalian nanti karena akan melawan bangsa sendiri.”

#Part 2_ Menulis Essay LPDP: Kontribusiku Bagi Indonesia

Halo sobat!! Seperti yang sudah diketahui, LPDP mensyaratkan  penulisan tiga essay untuk kelengkapan seleksi administrasi yakni sukses terbesar dalam hidupku, kontribusiku bagi Indonesia dan rencana studi. Setelah mengulas essay sukses terbesar dalam hidupku yang dapat kalian baca disini, kali ini saya akan membagi sedikit pengalaman saat menulis essay kontribusiku bagi Indonesia. Pengalaman yang sukses membuat saya sableng kayak Wiro Sableng #eaaaaaaa (semoga teman-teman tidak menjadi seperti saya).

Apa yang ada dibenak kalian saat membaca kata “kontribusi” apalagi untuk Indonesia? Beraaaaaattttt cooyyyyyy…..jangan khawatir, saya pun pernah ada di posisi yang sama. Masih sama seperti essay sebelumnya, JADILAH DIRI SENDIRI. Itu kunci utama. Pada essay ini, kita akan “dipaksa” mengorek masa lalu (bukan luka lama loh ya, yang pahit biarlah berlalu #aseeeekkkkk). Satu hal lagi, JANGAN TERBEBANI dengan kata “kontribusi”, ujung-ujungnya malah minder karena merasa tak ada hal special yang pernah dibuat. Coba ingat kembali pengalaman yang membuat kamu bangga melakukannya. Masih belum?? Tenang….pilih salah satu kegiatan (berhubungan dengan pekerjaan, ketika di kampus, ataupun di lingkungan tempat tinggal) yang pernah kamu lakukan, lalu kaitkan itu dengan kegunaannya untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Ceritakan kegiatan itu dengan jelas dan tonjolkan hal paling berkesan yang dapat memberikan gambaran positif untuk dirimu. Disini kamu harus menjual diri sendiri dengan jujur, gunakan kata-kata yang menarik namun tidak terkesan berlebihan.

Selain kontribusi yang sudah dilakukan, kamu pun harus menjabarkan dengan jelas kontribusi yang akan dilakukan. Nah, disini jebakannya!! Jelaskan kontribusi secara real jangan abstrak dan mengambang. Maksudnya, tulislah hal yang bisa kamu wujudkan secara konkrit setelah menempuh studi dan berguna bagi masyarakat dan lingkungan sesuai dengan keilmuan mu. Karena memilih jalur Afirmasi, maka saya mengangkat permasalahan sosial di daerah asal yakni NTT dan menjelaskan bagaimana bidang ilmu yang saya pilih dapat memberikan sumbangsih yang berguna. Dibawah ini teman-teman bisa melihat esai yang sudah saya tulis untuk LPDP.

 

Note: Tulislah apa adanya kamu dan sejujurnya, agar ketika wawancara nanti dapat dijelaskan dengan baik. Menurut saya ketiga essay sangat penting menentukan keberhasilan. Mengapa? Jika berbicara IPK dan Score TOEFL/IELTS pasti semua peserta sesuai standar yang diterapkan LPDP dan bersifat seragam. Yang menjadi pembeda adalah kisah yang kamu tuliskan, setiap orang punya ceritanya masing-masing bukan?? Selamat berjuang!!!!

 

                                                          Kontribusiku Bagi Indonesia

 

“My nationalism is humanity”

_Gandhi_

 

Bicara tentang kontribusi, buat saya ajaran Mohandas Karamchand Ghandi sangat pas untuk memulai esai ini. Disini saya akan menjabarkan kontribusi yang sudah saya lakukan ketika menjadi wartawan, mahasiswa dan yang akan saya lakukan ketika menerima beasiswa LPDP Afirmasi. Kesemuanya ini berdiri diatas prinsip kemanusiaan, karena kontribusi tanpa kemanusiaan ibarat sayur tanpa garam, bagai jauh panggang dari api.

Masih lekat di benak, saat senior di Kontan menceritakan tentang kisah wartawan Udin, wartawan yang dibunuh pada tahun 1996 karena beritanya yang kritis dan kerap menyoroti ketimpangan dalam masyarakat, hingga kini aktor yang terlibat pun masih hitam putih. Meski wartawan sering dibenci karena dianggap selalu mengedepankan profesionalisme ketimbang humanisme, tapi wartawan itu adalah pejuang kemanusiaan.

Menjalani profesi wartawan selama satu tahun tentu terbilang singkat dengan kata lain masilah “anak bawang”. Namun, selama itu pula saya belajar dari kisah Udin bahwa sejatinya wartawan itu punya dilema, humanisme atau profesionalisme. Sebagai wartawan junior, salah satu pengalaman berkesan saat ditugaskan meliput PHK massal yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan ternama di tanah air. Ketika itu saya tergabung dalam tim laporan utama dan menjadi satu-satunya wartawan yang diutus turun lapangan berhadapan langsung dengan narasumber. Meski PHK bukan hal yang asing tapi ada sisi humanis yang perlu diketahui dan didengar oleh publik dan pemerintah. Contohnya, 350 pekerja perusahaan semen yang di PHK massal dan diperlakukan tidak manusiawi. Merupakan hal yang luar biasa bagi saya ketika berita yang ditulis dapat membantu para buruh untuk mengakses pengaduan di Komisi IX DPR RI.

Selain pernah bertugas di kolom laput, saya pun berkesempatan bertugas di kolom Industri Kecil Mengah (IKM). Kolom ini mengangkat berita seputar peluang usaha, dan inspirasi bisnis. Sektor IKM amat penting dipublikasi sebab dapat merangsang persaingan bisnis dengan berbagai produk luar yang menjajah tanah air. Dengan memperkenalkan keberadaan mereka dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap produk buatan anak bangsa. Dikolom ini pula saya banyak berjumpa masalah kemanusiaan. Dalam satu kesempatan, saya melakukan liputan sentra pembuatan sandal di Desa Pasir Eurih, Bogor. Saya lalu berjumpa dengan Pak Abdul, pengrajin yang menjadi tenaga kerja dari pemilik modal yang akrab dipanggil “Bos”. Hidupnya jauh dari kata sejahtera. Bagaimana tidak, untuk 100 pasang sepatu dirinya yang renta hanya diupah sebesar Rp 50.000. Menuliskan kisahnya adalah salah satu cara agar saya dapat menolong Pak Abdul dan ratusan pengrajin lainnya yang bernasib sama. Mereka berharap mendapat pembinaan teknis baik itu untuk peningkatan kualitas produk maupun sistem pemasaran agar dapat bersaing secara kompetitif. Buat saya, keindahan profesi wartawan itu terletak pada tulisannya yang dapat memanusiakan manusia.

Sebelum berkarir sebagai wartawan, saya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Ketertarikan besar pada jurnalistik membuat saya memilih konsentrasi Media dan menyelesaikan studi pada tahun 2014. Semasa kuliah, saya aktif berorganisasi sebagai ketua Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) FIKOM. Selain  mengasah kepemimpinan, dengan aktif di LPM, saya pun dapat menuangkan ide sekaligus tindakan nyata dalam merespon permasalahan sosial. Misalnya, sebagai bentuk kegalauan rasa pesimistis anak muda terhadap bangsa sendiri, LPM sering mengadakan seminar dan kegiatan seperti pembuatan film pendek, iklan layanan masyarakat, serta karya jurnalistik agar anak muda bangga punya bangsa Indonesia.

Sebagai ketua LPM, saya turut bertanggung jawab terhadap penerbitan majalah fakultas. Selain berisi informasi seputar kampus, majalah yang bernama “VOICE” ini juga mengangkat berbagai fenomena komunikasi yang terjadi di masyarakat agar dapat menularkan pemikiran kritis dan sensitifitas bagi mahasiswa dalam melihat fenomena yang terjadi disekitarnya.

Sebagai kaum muda, saya ingin mengambil peran sebagai tenaga pendidik dan praktisi yang berkontibusi langsung bagi kemajuan bangsa ini khusunya daerah Nusa Tenggara Timur. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, kemiskinan rupanya masih melekat bagi mayoritas masyarakat NTT. Tak hanya bidang kesehatan yang diperlukan untuk meningkatkan derajat masyarakat, tapi juga peran bidang ilmu lain seperti Ilmu Komunikasi yang dapat berperan sebagai media promotif dan preventif yang efektif untuk mengubah kualitas hidup.

Saya pun ingin ilmu yang saya dapat selain bermanfaat bagi masyarakat juga mampu memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu komunikasi di NTT, karena harus diakui perkembangan ilmu komunikasi di daerah tak secepat di kota besar. Ibarat anak yang hilang dan akhirnya pulang, saya amat berharap beasiswa ini dapat menjadi “jalan pulang” bagi saya membangun Bumi Flobamora untuk Indonesia yang lebih baik.

 

#Part 1_ Menulis Essay LPDP: Sukses Terbesar dalam Hidup Ku

Salam kenal sobat pejuang beasiswa. Setelah sekian lama memendam rasa (alay,alay, alay) nulis di blog, akhirnya kesampaian juga #efekmalas.com. Jika sobat sampai masuk di blog ini, berarti kamu merasakan apa yang saya rasakan dulu (kegalauan dan bingung yang luar biasa,  eh kok jadi curhat. STOP Merlin!!!!!).

Yappp, salah satu syarat bagi pendaftar beasiswa LPDP adalah menulis tiga essay salah satunya ‘Sukses Terbesar dalam Hidup Ku’. Saat pertama kali membaca persyaratan ini rasanya biasa saja, berhubung suka menulis, jadi saya anggap kecil lahhhhh. Akan tetapi saudara-saudari ku, ketika pertama kali serius menulis essay ini, mama sayangggggg eeeeeee……rasa percaya diri langsung luntur kayak noda yang kena bayclin. Lah kok bisa???? Pada titik ini saya menyadari bahwa tema ini bukan tema biasa (jadi ingat judul lagu, benar kan???).

Kembali ke laptop, kenapa tidak biasa? Bayangkan, untuk essay maksimal 700 kata ini, setelah menghabiskan waktu lebih dari dua minggu begadang sampai mengoleksi banyak referensi essay sejenis tapi tetap saja mentok. Apa yang salah? Rupanya, saking terpesona dengan berbagai referensi essay yang isinya luar biasa hebat, saya jadi terbebani dan melupakan satu poin penting, JUJUR DENGAN DIRI SENDIRI!!! Kedengarannya gampang, tapi susah Ndroooooooo!!! (menurut saya sihh). Essay ini merupakan cerminan siapa kamu dan bagaimana kepribadian mu, tulislah sejujur jujurnya, gali motivasi mengapa kamu pantas menerima beasiswa ini. Jika sudah begitu pasti akan lebih mudah.

Saran saya, untuk paragraf pertama langsung saja to the point, hindari paragraf pertama yang bertele-tele sehingga membuat penyeleksi malas membaca. Ingat, sainganmu ribuan dari seluruh penjuru Indonesia!!!!!!!. Untuk paragrapf selanjutnya, silahkan menguraikan dan deskripsikan dengan jelas tapi tidak berputar-putar. Sebaiknya, sebelum menulis buat dahulu kerangka berfikir per poin sehingga tidak blank dan mengakibatkan antar paragraf menjadi tidak nyambung. Yang tidak kalah penting adalah kesimpulan. Buatlah satu kesimpulan yang tegas, yang merangkum semua inti tulisan. Jangan sampai kisah mu yang menarik dan hebat jadi sia-sia karena pengemasan yang salah.

Soooo, dari pada panjang lebar (padahal sudah panjang, maappppkaaannn), sobat bisa melihat essay yang sudah saya tulis dibawah ini.

Note: Mungkin ketika membaca kamu akan merasa aneh, kok bisa essay kayak begini diterima. Apanya yang spesial dibandingkan essay lain yang bertebaran di Mbah Google, yang jauh lebih inspiratif dan hebat. Percayalah saya juga punya pertanyaan yang sama. Tapi satu yang saya percaya, yakni kuasa Tuhan. Dia yang membuat segala sesuatu menjadi mungkin sekalipun itu terasa mustahil. Jadi percayalah sobat, usaha yang kamu lakukan tidak akan pernah mengkhianati hasil yang kamu dapat. Ora et Labora! Selamat menulis! Selamat berpusing-pusing ria……

                                               Sukses Terbesar dalam Hidup Ku

 

De plicht van een mens is mens te zijn

(Tugas manusia adalah menjadi manusia)

_Multatuli_

 

Jika mau jujur, orang normal mana yang mau gagal? Sedari rahim malah, janin di dalam kandungan dituntut untuk tumbuh dan menjelma menjadi manusia sukses. Kita belajar untuk sukses, bekerja untuk sukses, menikah untuk sukses, ingin menjadi orang tua yang sukses mendidik anak dan anak yang sukses membanggakan orang tua. Ya, sukses adalah dambaan setiap manusia. Tapi apa hakikat sukses sebenarnya? Setiap orang tentu punya definisinya masing-masing. Buat saya, sukses punya tiga arti, yakni berdamai dengan diri sendiri, berguna bagi orang lain dan berani melawan lupa.

Salah satu nasehat mama yang paling saya ingat adalah untuk menjadi cantik dari luar, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjadi cantik dari dalam, dan kuncinya adalah berhasil menerima diri sendiri. Buat saya ini berarti dapat mengalahkan ketakutan dan berdamai dengan diri sendiri. Bicara masalah kuliah, saya termasuk salah satu tipe mahasiswa yang pernah merasakan salah masuk jurusan. Karena ingin mengikuti jejak Ayah yang adalah seorang akuntan sekaligus dosen akuntansi, membuat saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah akuntansi di Surabaya, mengingat sewaktu SMA adalah anak IPS, pilihan ini diyakini tepat. Rupanya mendekati akhir semester satu saya mulai goyah. Bukan karena merasa sulit dan tak mampu, saya membayangkan ketika nanti menjadi akuntan yang harus bergelut di belakang meja dengan rutinitas kantoran bukanlah apa yang saya mau. Intinya saya tidak bahagia kuliah di jurusan ini karena tak bisa mengeluarkan potensi yang ada dalam diri sendiri. Saya suka menulis, bekerja di lapangan, dan bertatap muka dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Ya, saya ingin jadi wartawan!

Ketakutan terbesar saat itu adalah mengatakan sejujurnya pada orang tua, terlebih Bapa. Meski sempat keras menolak, akhirnya dengan tegas beliau mengatakan “Itu pilihan mu, resiko tanggung sendiri dan janji hasil harus baik”. Pesan Bapa terus saya ingat karena menjadi motivasi sekaligus “doping” ketika menempuh studi ilmu komunikasi. “Janji hasil harus baik” akhirnya dapat saya penuhi dengan menyelesaikan studi dalam tempo 3,5 tahun dan mempersembahkan gelar cumlaude bagi orang tua. Ini salah satu kesuksesan terbesar saya karena bisa mempercayai diri sendiri dan merasa benar-benar hidup.

Kejadian ini pula membuat saya paham bahwa hidup ini bak papan catur yang punya sisi hitam dan putih. Kita dapat memilih menjadi manusia berhasil atau manusia yang berguna. Oleh karenanya, salah satu sukses terbesar saya adalah ketika bisa membagi ilmu dengan orang lain. Apalah arti ilmu tanpa kemanusiaan dan pengetahuan tanpa karakter? Ada rasa kepuasan tersendiri yang saya rasakan ketika dapat membantu teman kuliah atau adik semester dalam mengerjakan tugas kuliah mereka. Ini tidak membuktikan bahwa saya lebih pandai karena sejatinya kita sama-sama belajar.

Rasa kepuasan itu akhirnya semakin memantapkan hati saya untuk berkarir sebagai wartawan. Profesi wartawan menurut saya tak sekedar ujung tombak penyampai informasi, lebih dari itu, yakni suatu perjuangan ingatan melawan lupa. Kesuksesan seorang wartawan bagi saya adalah saat apa yang ditulis mampu memberi dampak positif bagi masyarakat. Misalnya, sewaktu saya menulis kisah sukses pembisnis Indonesia, Niluh Djelantik yang dapat menjadi inspirasi pelaku ukm lainnya. Niluh sendiri menjadikan kesempatan ini sebagai alat penyampai aspirasi mewakili industri ukm. Meski baru satu tahun bergelut dengan profesi wartawan, saya belajar banyak hal, bahwa profesi wartawan itu harus merdeka, tidak hitam putih, tidak rumit tetapi kompleks dan berpegang teguh pada suara hati.

Pada akhirnya, makna kesuksesan ini adalah sudut pandang pribadi yang bisa saja berbeda dengan yang lainnya. Apapun itu, dari tiga defenisi ini, kesimpulan yang dapat saya ambil yakni, sukses itu adalah menjadi bahagia. Saya tidak menampik bahwa kebahagiaan sering diidentikan dengan uang. Karena dengan uang, toh orang mampu membantu sesama yang miskin. Manusia pun tak bisa hidup tanpa uang. Tapi apalah artinya uang dan kekayaan jika tak pernah merasa bahagia. Saya pribadi merasa, sejatinya seseorang tak bisa dibilang kaya sampai memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang. Itulah kebahagiaan. Sejalan dengan apa yang Multatuli bilang, tugas manusia adalah menjadi manusia, menjadi manusia itu harus merasa bahagia.

Jejak Langkah Sang Calon Gembala

“Kaum muda adalah nafas gereja dan negara, jangan pernah ada kata pesimis, tarulah kata optimis biar nafas sungguh dihidupkan,” pesan Christo yang merupakan Calon Imam Projo Keuskupan Waetabula, Nusa Tenggara Timur.
Perawakannya yang tinggi, berkacamata dan sederhana, namun mempunyai senyuman khas berkharisma, dengan tutur kata yang santun dan kaya makna, membuat sosok pria hitam manis ini selalu melekat diingatan ketika berjumpa dengannya. Fr. Christo, begitulah putra kelahiran Sandalwood Island yakni tanah Marapu, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur ini sehari-hari disapa.
Terlahir dari pasangan Nobertus Ngasi dan Patricia de Ornay, Chirsto Ngasi begitu nama lengkapnya, menghabiskan masa kecil seperti anak kebanyakan yang selalu mengisi harinya dengan bermain dan bercanda dengan teman sepermainan. “Masa kecil saya bahagia karena orang tua mengajarkan saya tiga hal yakni, kejujuran, kerja keras dan tanggung jawab. Iman katolik menjadi dasar dan saya bersyukur karena dapat bersekolah di sekolah katolik sekalipun biaya nya mahal,” demikian Chirsto mengutarakan ingatannya.
Masa remaja pria kelahiran 13 Maret 1987 ini terbilang cukup nakal, tidak tanggung-tanggung kakak kelas nya sewaktu SMA pernah dipukul hingga bibirnya berdarah. Namun karena keras nya orang tua, terlebih sang ayah yang selalu menghukum dengan keras setiap kali berbuat salah, yang membuatnya bisa berubah.
“Berawal dari kekaguman melihat Imam memakai jubah saat kecil dulu, itulah saat dimana saya mulai jatuh cinta kepada panggilan ini, “ tutur Cristo sembari mengulas seuntai senyum. Walupun belum terpanggil secara utuh, kecintaanya mulai dinyatakan dengan menjadi misdinar atau ajudah di gereja. Barulah setelah menapaki masa putih abu dirinya merasa terpanggil seutuhnya, terlebih setelah di bimbing oleh Biarawan BHK.
Tidak mudah memang bagi Chirsto untuk menjawab panggilan istimewa ini. Pergolakan dan pergumulan yang hebat sempat dia rasakan ketika harus mengambil keputusan menjawab “ya” atau “tidak” untuk menjadi kekasih sejati Allah. “pergolakan pertama adalah mengalahkan rasa takut dalam diri saya. Rasa takut sebagai pribadi yang rapuh, apakah sanggup menjalani panggilan ini dan yang kedua memutuskan hubungan dengan pacar yang sudah berlangsung selama empat tahun, ini adalah hal terberat dan jujur bahwa semua itu bisa saya lupakan ketika masuk seminari. Hati ku sudah menjadi milik Bunda Maria seutuhnya dan itu tidak bisa di bagi kepada siapa pun,” urai Christo.
Keputusannya untuk menjadi Imam ternyata didukung sepenuhnya oleh seluruh keluarga. Doa keluarga diakui Christo sebagai kekuatan baginya untuk terus bertahan menjalani hari-hari yang sulit dan berat di Seminari Tinggi Santo Mikhael Kupang. Saat pertama kali menapakkan kaki di seminari terasa begitu menyedihkan bagi nya karena harus melepaskan semua kebebasan saat SMA. “Rasanya ingin lari dari kurungan dan ketatnya formasi, namun ini adalah pilihan saya dan saat ini saya sudah merasa nyaman. Inilah rumah saya sekarang,” ungkap Christo seraya meneguk secangkir kopi di depannya.
Menjadi seorang Imam butuh waktu yang tidak sedikit, tuntutan akademik sebagai calon Imam adalah salah satu tantangan yang cukup sulit serta afeksi seks terhadap perempuan diakui Christo juga menjadi tantangan berarti. Tidak hanya itu, kehidupan seminari yang monoton menjadi cobaan tersendiri bagi setiap pribadi yang bergelut didalamnya. “Rasa jenuh pasti ada ketika padat nya kegiatan akademik dan kerohanian, namun saya bersyukur karena semua rasa jenuh itu dapat diatasi dengan berbagai kegiatan olahraga, musik dan teater,” terang mantan wakil ketua senat mahasiswa 2010 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini.
Menjadi Imam berarti harus siap menderita bersama Kristus. “Bagi saya turut menderita bersama Kristus adalah ikut ambil bagian dalam tugas dan pelayanan baik itu susah dan senang, karena kelak saya juga akan menjadi in persona christy yakni mengambil rupa Kristus,” jelas Christo yang masih menyisakan empat tahun lagi untuk di tabiskan menjadi Diakon. Sulung dari empat bersaudara ini pun menguraikan cita-citanya untuk menjadi pelayan Allah yang setia dan penuh cinta kasih. Menurut mantan ketua Komunikasi Filsafat 2011 ini, untuk mencari Imamat adalah sesuatu yang mudah tetapi untuk mempertahakannya adalah hal sangat sulit.
Saat ini Christo tengah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Waimarama Keuskupan Waitabula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Selama masa pelayanannya, Christo bertugas melayani umat, memimpin ibadat syukur dan kematian. Selain itu, calon gembala ini turut menangani orang muda katolik, memberikan pembinaan kepada guru agama dan mengasuh rubrik majalah Gong Sumba serta melayani komuni orang sakit. Ada juga kisah nya ketika harus berhadapan dengan para pencuri di Waimarama. “Daerah ini merupakan sarang perampok dan saya harus bergaul dengan para pencuri ini untuk menyadarkan dan membuat mereka bertobat,” katanya.
Sederhana, ketika Christo mendefenisikan pribadinya sebagai kekasih Allah, yakni setia. Setia akan panggilan, cita-cita luhur dan karya kerasulan. “ Kesetiaan adalah kunci kepribadian ku dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah, sebagai inspirasi hidup ku, seperti yang dikatakan Injil Yohanes dalam 15:14a, yaitu kamu adalah sahabat Ku,” pungkas Christo sambil tersenyum simpul. “Filosofi saya bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, saya ingin mengejar kesempurnaan itu dan kesempatan ibarat kado yang tak boleh dilewatkan,” ujar Christo menutup pembicaraan.

Jejak Langkah Sang Calon Gembala

Image